sriwijaya toto login

2024-10-08 04:20:55  Source:sriwijaya toto login   

sriwijaya toto login,kakekmerah88,sriwijaya toto loginJakarta, CNN Indonesia--

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan negaranya akan membalas serangan roket diduga dari Libanon ke sebuah desa di Dataran Tinggi Golan, Sabtu (27/7).

Netanyahu mengatakan milisi Hizbullah di Libanon akan menerima balasan atas serangan roket ke lapangan sepak bola desa Druze tersebut. Terbaru, otoritas Israel menyatakan korban tewas dalam serangan roket ke dataran tinggi Golan kini mencapai 11 orang, termasuk anak-anak.

"Hizbullah akan membayar dengan sebuah harga yang mahal, harga yang sejauh ini belum dibayarkannya," ujar Netanyahu dalam perbincangan dengan komunitas Druze seperti disiarkan kantor PM Israel, dikutip dari Reuters, Minggu (28/7).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lihat Juga :
30 Orang Tewas dalam Serangan Udara Israel ke Sekolah Khadija di Gaza

Namun, mengutip dari Reuters, Hizbullah malah membantah sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan ke Dataran Tinggi Golan yang dikuasai Israel tersebut.

Dalam pernyataan tertulisnya, Hizbullah mengatakan: "Kelompok Pejuang Islam sama sekali tidak ada hubungannya dengan insiden tersebut, dan dengan tegas menyangkal semua tuduhan palsu terkait hal ini".

Hizbullah adalah salah satu jaringan milisi Islam yang cukup kuat dan didukung Iran. Kelompok ini juga merupakan pendukung paling kuat untuk faksi Hamas yang bertahan di Gaza.

Israel mengokupasi Dataran Tinggi Golan yang sebelumnya masuk teritorial Suriah pada 1967 silam.

Reutersmelaporkan serangan roket ke Dataran Tinggi Golan itu terjadi beberapa saat setelah serangan udara ke Libanon yang menewaskan empat pejuang pada Sabtu lalu. 

Dua sumber di dalam keamanan Libanon mengatakan setidaknya ada empat pejuang yang tewas dalam serangan Israel ke Kfarkila di Libanon selatan. Salah satu dari empat pejuang yang tewas itu adalah warga Hizbullah.

Lihat Juga :
Angkatan Udara Israel Siapkan Perang Terbuka Tantang Hizbullah
(Reuters/kid)

Read more